Menguak Mitos yang Terpatahkan si kawah Putih nan Memukau Mata

07.15.00


“….. dan tiba-tiba aku ingin menoleh dan berterima kasih pada masa lalu atas segala proses  rekam perjalanan hingga waktu yang berlangsung  saat dimana aku menuliskan kalimat ini ….”

Terkadang saya bingung ingin memulai dari mana ceritanya ketika kamu hanya memiliki momen di masa yang sudah sekian lama dan hanya itu yang dimiliki, sementara kamu ingin menceritakannya kepada khalayak ramai. Saya adalah tipikal orang yang menyukai perjalanan ke semua tempat menarik yang saya anggap excited dan recommended untuk dikunjungi, namun ada hal yang sangat disayangkan, saya bukanlah tipe pejalan yang hobi mengulangi tempat yang sama untuk kedua kalinya. Hal ini mengapa? Karena saya selalu memiliki bucket list untuk segala tempat yang ingin saya capai di setiap tahun dan menghitung seberapa peluang kemampuan saya untuk bisa menapaki kaki di tempat yang akan saya kunjungi tersebut agar terealisasi dengan baik, oleh sebab itu saya tidak menuju ke tujuan yang sama hingga nanti saya dapat menyelesaikan setiap bucket list perjalanan yang ingin saya selesaikan.

Sering kali partner perjalanan saya kecewa hanya karena alasan tidak mau ke tempat yang sama dan mengulanginya, “Maaf jika aku berbeda . . .” seperti itulah ucap saya kepada siapa saja yang mengajak menuju ke tempat yang pernah saya datangi. Bukan berarti saya tidak menyukai destinasi tersebut, justru saya sangat suka, tapi ada hal lain yang mesti dipertimbangkan mengenai prinsip keuangan seorang Backpacker yang tidak pernah lepas dari kata “Budget”, dimana bagi seorang Budget Traveler setiap perjalanan yang direncanakan harus diperhitungkan secara jeli terhadap setiap cost yang akan dikeluarkan, karena mengulang kembali itu bagi saya mahal, meski nanti ceritanya akan berbeda tapi lebih baik saya memilih destinasi lain yang benar-benar fresh spot dan nanti akan  menjadi pengalaman baru untuk kisah petualangan saya nantinya.

Back to topic, saya akan bercerita tentang perjalanan saya mengunjungi sebuah lokasi yang kata orang sekarang sih “Mainstream” di Jawa Barat. Namun kunjungan di tahun 2013 lalu bisa saya pastikan lokasi ini masih menjadi tempat kunjungan yang belum terlalu mainstream, maklum saat itu gadget belum terlalu berkembang sepesat saat ini. Foto koleksi perjalanan di tahun 2013 merupakan foto teranyar yang terlihat bagus di masanya, jika membandingkan dengan saat ini tentulah berbeda, karena untuk memulai throwback stories dan memikirkan kembali untuk menulis cerita yang sudah begitu lama, butuh usaha keras untuk mengingat-ingat, bahkan saya sempat ngulik terlebih dahulu jenis kamera apa yang saya gunakan untuk mengambil gambar pada saat itu. Selidik punya selidik akhirnya saya pun hanya bisa tersenyum geli, bahwa kamera untuk galeri cerita ini adalah seri dari Android pertama keluaran sebuah perusahaan ponsel asal korea “S***U*G” yang masih menggunakan sistem operasi versi Froyo. Oh my gosh !!! itu sangat jadul sekali bukan jika kamu membandingkan dengan versi gadget keluaran saat ini? But Lets gone be by gone, itu resiko saya, karena seperti cerita saya sebelumnya kenapa saya tak memiliki foto terbaru, karena memang saya tak mengulangi nya kedua kali.

Plesiran saya kali ini adalah menuju salah satu kawasan wisata paling hits di Bandung, yaitu ke Kawah Putih. Kawah Putih Ciwidey berada di kawasan pegunungan yang mempunyai ketinggian lebih dari 2.400 meter di atas permukaan laut, terletak di Ciwidey, Jawa Barat dan kabarnya ini terbentuk dari letusan Gunung Patuha. Dengan ketinggian tersebut, suhu udara di kawasan Kawah Putih tentu saja dingin dengan suhu 8 derajat Celsius sampai dengan 22 derajat Celsius, oleh karena itu jangan lupa membawa jaket atau memakai pakaian yang tebal. Sesuai dengan namanya, kawaasan ini memang mempunyai warna putih akibat unsur kandungan belerang, namun sesekali warnanya juga menjadi kehijauan yang bisa disebabkan oleh suhu dan cuaca.


Cerita mengenai Kawah Putih bermula pada abad ke 10 di mana terjadi sebuah letusan hebat oleh Gunung Patuha. Setelah letusan ini, banyak orang beranggapan bahwa lokasi ini adalah kawasan angker karena setiap burung yang terbang melewati kawasan tersebut akan mati.

Seiring dengan berjalannya waktu, kepercayaan mengenai angkernya tempat ini mulai pudar, sampai akhirnya pada tahun 1837 ada seorang ahli botani dengan kebangsaan Jerman datang ke kawasan ini untuk melakukan penelitian. Peneliti yang bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn tersebut sangat tertarik dengan kawasan pegunungan sunyi yang bahkan tidak ada burung yang terbang di atasnya sehingga ia berkeliling desa untuk mencari informasi. Pada saat itu, seluruh informasi yang ia dapatkan adalah bahwa kasawan tersebut angker dan dihuni oleh mahluk halus.

Bagi Dr. Franz Wilhelm Junghuhn, pernyataan masyarakat setempat tersebut tidaklah masuk akal. Karena tidak percaya dengan cerita-cerita tersebut, ia pergi ke dalam hutan rimba untuk mencari tahu apa yang ada di sana. Singkat cerita, akhirnya Dr. Franz Wilhelm Junghuhn berhasil mencapai puncak gunung, dan dari sana ia melihat keberadaan sebuah danau indah berwarna putih dengan bau belerang yang menyengat.

Sejak itu, keberadaan Kawah Putih Ciwidey menjadi terkenal dan mulai dari tahun 1987 pemerintah mengembangkan kawasan ini sebagai tempat wisata yang menawarkan pengalaman unik melihat danau yang dapat berubah warna.




Di sini kamu juga dapat berfoto dengan pemain kecapi khas Kawah Putih ini, dan jangan lupa untuk berdonasi walau hanya sedikit yang bisa sobat berikan.



Harga tiket masuk Kawah Putih pada hari biasa dan hari libur serta akhir pekan adalah sama yaitu 15.000 Rupiah per orang, sedangkan untuk tarif kendaraan adalah sebagai berikut
  •  Parkir atas (mobil): 150.000 Rupiah
  • Parkir atas (motor): 35.000 Rupiah
  • Ontang-anting: 13.000 Rupiah
  •  Parkir bawah (mobil): 6.000 Rupiah
  •  Parkir bawah (motor): 5.000 Rupiah
  • Parkir bawah (bus): 25.000 Rupiah

Yang dimaksud dengan parkir atas adalah membawa kendaraan Sobat Budget Traveler sampai dengan lokasi kawah, bus tidak dapat parkir di atas. Maksud dari parkir bawah adalah memarkir kendaraan Sobat Budget Traveler di gerbang masuk kemudian kamu dapat naik ontang-anting untuk menuju kawah.

Apa itu ontang-anting? Ontang-anting berasal dari bahasa Sunda yang berarti ‘mondar mandir’ dan merupakan sebutan bagi kendaraan khas Kawah Putih Ciwidey. Kendaraan ini berupa mini bus yang telah dimodifikasi menjadi terbuka dan dilengkapi dengan pengaman. Kapasitas maksimal untuk 1 ontang-anting adalah 12 orang, namun jangan kuatir tidak kebagian tempat karena ada banyak ontang anting beroperasi di kawasan ini.

Tempat wisata buka setiap hari dari jam 7 pagi sampai dengan jam 5 sore. Agar perjalanan wisata Sobat Budget Traveler ke Kawah Putih lebih nyaman, simak tips-tips berikut ini:
  1. Suhu udara yang dingin bukan berarti Sobat Budget Traveler aman dari sengatan matahari, gunakan sunblock sebelum beraktifitas di Kawah Putih
  2.  Bila kamu tidak kuat dengan bau belerang, bawahlah masker
  3.  Bila tidak mempunyai masker, kamu dapat membelinya di lokasi
  4. Jangan terlalu lama berada di kawah karena dapat membuat pernafasan kamu  terganggu, kalian dapat naik sebentar ke atas dan kemudian kembali lagi ke kawah bila masih ingin melihat pemandangan Kawah Putih
  5. Bila rombongan kamu terdiri dari sedikit orang, sebaiknya memarkir kendaraan di gerbang dan kemudian lanjut menggunakan ontang-anting karena lebih murah, selain itu dengan ontang-anting sobat Budget Traveler dapat menikmati pemandangan hutan dan pegunungan dengan jelas
Nah sekian dulu ya cerita saya di wisata Kawah Putih ini sobat Budget Traveler. Nantikan keseruan kisah perjalanan saya lainnya di coretan selanjutnya ya. Keep travel and enjoy your adventure.

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images